Consequence Of The Holiness Of God

Diterbitkan Dikategorikan dalam Bible Study Tak ada komentar pada Consequence Of The Holiness Of God

Pasien anak laki-laki menangis dan berteriak-teriak ketika kemarin saya membius dan mencabut giginya yang sudah busuk. Sadis dan tak berperasaankah saya? Ataukah itu memang sudah tugas dan tanggung jawab saya sebagai dokter gigi untuk mencabut gigi yang sudah busuk? 

Imamat 10 : 1-2

Kemudian anak-anak Harun, Nadab dan Abihu, masing-masing mengambil perbaraannya, membubuh api ke dalamnya serta menaruh ukupan di atas api itu. Dengan demikian mereka mempersembahkan ke hadapan TUHAN api yang asing yang tidak diperintahkan-Nya kepada mereka.

Maka keluarlah api dari hadapan TUHAN, lalu menghanguskan keduanya, sehingga mati di hadapan TUHAN.

“Tuhan sadis!”

“Mengapa tidak dikasih kesempatan sekali lagi?” 

Mungkin itu reaksi kebanyakan kita dari peristiwa Nadab dan Abihu ini. 

Atau saya sempat berpikir dan mencari tahu, apakah memang pada dasarnya Nadab dan Abihu ini memiliki karakter yang suka membangkang sehingga pantas dihukum. Tapi saya tidak menemukan bukti-bukti tersebut. 

Pada akhirnya saya mengambil kesimpulan bahwa ini adalah konsekuensi wajar dari sifat Tuhan yang Mahakudus. Tuhan itu Mahakasih dan Mahasabar, namun ketika kekudusan-Nya dilanggar, mau tidak mau orang yang melanggarnya harus menanggung akibatnya. 

🕯️Ketika duduk merenungkan lagi, saya bertanya pada diri sendiri : “Saya ini banyak melanggar kekudusan Tuhan, mengapa saya belum mati?” Lalu saya teringat ayat ini : 

Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita,

dia diremukkan oleh karena kejahatan kita;

ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya,

dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.

(https://alkitab.me/in-tb/Yesaya/53/5

🕯️Ganjaran dan hukuman akibat kejahatan dan pemberontakan saya ditimpakan kepada Yesus Kristus. Itulah sebabnya saya hari ini saya belum mati. 

🕯️Dari sini saya menetapkan hati lagi untuk menjalani hidup yang bersyukur, bersuka cita dan berkelimpahan. Yang kedua adalah, saya berkeputusan untuk lebih serius lagi menjaga kekudusan karena saya tidak ingin menyalibkan Yesus Kristus untuk kedua kalinya. Dan yang terakhir, saya tidak ingin terpisah dari Bapa di Sorga yang begitu mengasihi dan melimpahi saya dengan berkat karunia-Nya yang melimpah. 

Bro Sis, 

Memang benar Tuhan itu Mahakasih dan Panjang Sabar, namun Dia juga Mahakudus. Barangsiapa yang melanggar akan menerima konsekuensinya. 

Namun Tuhan Yesus Kristus sudah menanggung semua konsekuensinya bagi kita. 

Sekarang, masihkah kita hidup dalam pemberontakan? Apakah kita tega menyalibkan Yesus berkali-kali? 

Marilah kita jalani hidup ini dalam kekudusan, sambil menikmati dengan sukacita pengampunan yang Tuhan telah sediakan melalui salib Kristus. 

👉Hayati hubungan dalam Tuhan dengan doa dan saat teduhmu.

👉Rasakan betapa indahnya hidup di dalam kekudusan.

👉Nikmati hidup yang merdeka dari dosa dan api penghukuman. 

 

It is for freedom that Christ has set us free. Stand firm, then, and do not let yourselves be burdened again by a yoke of slavery.

(https://www.biblegateway.com/passage/?search=Galatians%205%3A1&version=NIV)  

Bagikan Ini:

Oleh Eka Karnawan

Seorang dokter gigi yang cinta Tuhan.

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

DOMBAPA Ijinkan kami memberi notifikasi update terbaru kepada Anda.
Tidak
Ijinkan Notifikasi